DKI Sepekan: Harga Cabai Rawit Naik hingga Bersih-Bersih Serentak

Jakarta — Sepekan terakhir di DKI Jakarta bergerak dengan dua irama yang kontras namun saling melengkapi. Di pasar-pasar tradisional, harga cabai rawit merangkak naik, menguji kesabaran pembeli jelang kebutuhan harian yang meningkat. Di sisi lain, aksi bersih-bersih serentak menggeliat di berbagai sudut kota—warga, petugas, dan relawan turun bersama membersihkan lingkungan, menguatkan pesan bahwa Jakarta tak hanya sibuk berdagang, tetapi juga merawat ruang hidupnya.

Dua peristiwa ini, meski berbeda wajah, sama-sama menyentuh dapur dan halaman rumah warga.

Harga Cabai Rawit Menggigit

Di sejumlah pasar, pedagang mengakui kenaikan harga cabai rawit terjadi bertahap dalam sepekan. Faktor cuaca, pasokan dari daerah produksi, dan peningkatan permintaan ikut memengaruhi. Bagi pembeli, selisih harga sekecil apa pun terasa nyata—menu disesuaikan, jumlah belanja dikurangi, atau alternatif dicari.

Pedagang memilih langkah hati-hati. Kenaikan diterapkan perlahan agar pembeli tetap datang. “Kalau naik mendadak, kasihan pembeli. Kita jaga sama-sama,” ujar seorang pedagang, menggambarkan etika pasar yang membumi.

Human Interest: Menjaga Rasa, Menjaga Anggaran

Cabai rawit bukan sekadar bumbu; ia penentu rasa bagi banyak keluarga dan usaha kecil. Warung makan menghitung ulang modal, ibu rumah tangga menakar ulang belanja. Adaptasi kecil—datang lebih pagi, berbagi info harga, atau mengganti menu—menjadi cara bertahan tanpa mengorbankan kebutuhan lain.

Di sini, stabilitas harga adalah soal ketenangan publik, bukan hanya angka.

Bersih-Bersih Serentak, Gotong Royong Menguat

Di saat yang sama, Jakarta bergerak membersihkan diri. Aksi bersih-bersih serentak dilakukan di permukiman, saluran air, dan ruang publik. Sampah diangkut, selokan dibersihkan, rumput dirapikan. Warga turun bersama petugas—sebuah pemandangan yang menumbuhkan rasa memiliki.

Kegiatan ini tak hanya soal estetika. Lingkungan bersih mengurangi risiko genangan dan penyakit, memperkuat keamanan publik di musim hujan. Gotong royong menghadirkan kemanusiaan di kota besar: saling sapa, saling bantu, dan rasa bangga pada lingkungan sendiri.

Dua Wajah, Satu Pesan

Kenaikan harga cabai rawit mengingatkan pentingnya kelancaran pasokan dan distribusi. Bersih-bersih serentak menegaskan bahwa ketahanan kota juga lahir dari partisipasi warganya. Keduanya bertemu pada satu titik: keseharian warga.

Ketika dapur diuji, solidaritas pasar bekerja. Ketika lingkungan perlu dirawat, solidaritas kampung bergerak.

Harapan ke Depan

Warga berharap pasokan cabai segera stabil agar harga kembali ramah. Di sisi lain, aksi bersih-bersih diharapkan konsisten—bukan hanya seremoni, melainkan kebiasaan. Pemerintah daerah, pedagang, dan masyarakat punya peran masing-masing untuk menjaga keseimbangan ini.

Sepekan di DKI Jakarta menutup dengan pelajaran sederhana namun penting: kota yang tangguh adalah kota yang mampu menata harga kebutuhan sekaligus merawat lingkungannya. Dari lapak pasar hingga got, dari dapur hingga halaman—Jakarta bergerak bersama.